Hello, I am harun80
See my profile


July 2008

SMTWTFS
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Tag

Syndicate content

Add to My Dada

Add to My Dada

Share your contents

De.licio.us

Pasca wafatnya baginda Rasulullah SAW muncul pikiran-pikiran dan usaha-usaha untuk melepaskan diri dari ketaatan dan kewajiban syar'i kepada negara. Sebut saja misalnya muncul pemberontakan kaum yang menolak membayar zakat. Mereka bersatu dengan kelompok pendukung munculnya nabi-nabi palsu seperti Syajah At Tamimiyah dan Tulaihah bin Khuwailid. Di antara nabi palsu yang terkenal adalah Musailamah al Kaddzab yang didukung oleh sekitar 41 ribu orang dari kalangan Bani Hanafiyah.

Melihat situasi yang begitu genting dan api pemberontakan yang begitu meluas, Khalifah Abu Bakar ra cepat mengambil keputusan untuk menindak tegas para pemberontak tersebut.  Untuk itu beliau ra mengirim 11 pasukan dan melantik 11 orang panglima pasukannya untuk menumpas pemberontakan di 11 wilayah yang berbeda dalam waktu yang sama.

Kesebelas panglima tersebut dibekali surat ultimatum khalifah kepada para pemberontak yang isinya antara lain:

Allah berfirman:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran 144).

Telah sampai kepadaku berita bahwa di antara kalian ada sekelompok orang yang akan kembali murtad kepada agama lamanya setelah dia mengakui Islam dan mengamalkannya, karena merasa sombong terhadap Allah, jahil terhadap perintah-Nya, dan karena mengikuti ajakan setan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir 6).

Sesungguhnya aku mengutus kepada kalian panglima-panglimaku dengan pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin, Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Aku telah perintahkan agar mereka tidak menerima dari kalian kecuali iman kepada Allah, dan tidak memerangi kalian hingga mereka mengajak kalian kepada Allah Azza wa Jalla.  Jika orang yang diseru tersebut memenuhi seruan utusanku ini dan mengakui serta beramal shalih, maka itulah yang diharapkan darinya dan dia akan dibantu, tapi jika orang yang diajak itu menolak maka hendaklah dia diperangi hingga ia mau kembali kepada syariat Allah.

......

Dengan surat ultimatum khalifah tersebut para panglima bisa mengatasi pemberontakan kaum murtadin. Sebagian mereka seperti Tulaihah kembali kepada Islam dan sebagian yang lain seperti Musailamah tewas terbunuh. Selanjutnya seluruh pengikut mereka yang masih hidup kembali ke pangkuan Islam.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di atas antara lain:

Pertama, Islam memiliki sistem penanganan yang efektif terhadap orang yang murtad.  Jika mereka sendiri atau hanya beberapa orang, maka setelah diminta bertobat dan tidak mau kembali, orang-orang itu dihukum mati, berdasarkan hadits Nabi SAW: ”Siapa yang mengganti agama(Islam)nya, maka bunuhlah” (Sahih Bukhari Juz 10/211).

Jika mereka adalah kaum yang jumlahnya banyak dan memiliki kekuatan untuk memberontak, maka setelah diminta kembali tapi menolak, mereka diperangi.

Kedua, dengan sikap tegas di atas kemuliaan dan kemurnian Islam akan tetap terjaga dan mereka yang terlanjur murtad bisa diselamatkan dengan diminta kembali bertobat, kembali kepada Islam (ruju' ilal haq). Menjaga kemuliaan dan kemurnian Islam serta melindungi keselamatan aqidah umat Islam merupakan tanggung jawab penguasa muslim dimanapun dan kapanpun. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Imam adalah laksana perisai, umat diperangi di belakangnya, dan berlindung kepadanya”.(Sahih Al Bukhari X/114).

Ketiga, sikap dan tindakan tegas seperti yang diambil oleh Khalifah Abu Bakar ra adalah sangat tepat sekalipun situasi kondisi negara kurang menguntungkan dengan banyaknya pemberontak yang konon mencapai sekitar 200 ribu orang pada waktu itu.  Bahkan dalam kesempatan yang sama, Khalifah harus mengirim pasukan Usamah bin Zaid menghadapi Romawi.  Pengiriman pasukan yang diamanatkan Rasulullah SAW itu sempat tertunda dengan wafatnya beliau.  Namun dengan ketegasan dan kemantapan khalifah, akhirnya mobilisasi pasukan kaum muslimin justru mencapai kondisi puncak dalam kekuatan sehingga menimbulkan ketakutan kepada pihak musuh dan kaum pemberontak yang justru menganggap pasukan khalifah besar dan kuat sekali dan akhirnya pemberontakan mereka bisa dipadamkan.  Jadi sikap tegas terhadap pemberontakan kaum murtad dan para nabi yang menistakan aqidah dan syariat Islam adalah tetap harus diambil sekalipun kondisi negara sedang kesulitan.  Sebab, hal itu merupakan makar yang sangat berbahaya jika dibiarkan karena merusak sendi dasar umat dan negara. 

Dengan ketegasan khalifah sebagai kepala negara dalam menjalankan sistem Islam dalam menangani kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat yang bersekutu dengan para nabi palsu, maka agama ini terjaga hingga hari ini.  Sudah saatnya umat dan negara hari ini bersatu padu dalam mewujudkan penerapan syariatnya sehingga mereka hidup aman dan sejahtera di atas landasan aqidah yang benar dan dengan hukum syariah yang diridlai Allah SWT. Wallahu a'lam! [muhammad al khaththath/www.suara-islam.com]


Rate this post


International Crisis Group
(ICG) yang berpusat di
Brussels dalam laporan terbarunya mengkhawatirkan meningkatnya pengaruh kelompok yang disebutnya sebagai garis keras (hardline Islamic Groups) di Indonesia.

Dalam penjelasannya tentang SKB Ahmadiyah, ICG mengatakan kelompok-kelompok Islam telah menekan pemerintah dalam aksi besar ulama dan para Habib pada 9 Juni 2008 di depan Istana negara. Menurut ICG, menuntut pembubaran Ahmadiyah yang diikuti lebih dari 200.000 umat Islam itu menunjukkan kelompok Islam telah menggunakan teknik-teknik klasik advokasi masyarakat sipil untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah.

ICG menjelaskan kelompok Islam telah menggunakan lobi-lobi yang sistematik untuk mempengaruhi birokrasi. Tidak hanya itu ICG juga menyalahkan Presiden SBY yang dituding telah memberikan dukungan terhadap MUI dalam menggolkan SKB Ahmadiyah. ICG tampaknya memprovokasi pertentangan pemerintah dan MUI.

” Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak tahun 2005 justru mengajak MUI untuk turut terlibat dalam pembuatan kebijakan-kebijakan pemerintahannya. Ini menjadi sangat berbahaya karena MUI dikuasai kalangan garis keras. Dan pemerintah, maaf, tidak cukup berani menghadapi mereka, dan tidak cukup berani untuk menegakkan nilai-nilai, demokrasi dan toleransi yang selama ini dianut bangsa Indonesia. Ini sangat mencemaskan masa depan Indonesia,” demikian ungkap John Virgoe, Direktur program ICG untuk urusan Asia Tenggara dalam laporan terbarunya.

Dalam laporannya ICG merisaukan meningkatnya pengaruh kelompok yang ditudingnya sebagai kelompok garis keras. Salah satu yang disoroti ICG adalah FUI (Forum Umat Islam) dan Hizbut Tahrir Indonesia. Menurutnya ICG, Hizbut Tahrir telah memperluas koalisinya beraktifitas bersama kelompok Islam lainnya di FUI (Forum Umat Islam) yang dibentuk tahun 2005.

Laporan itu menambahkan Forum Umat Islam - dimana seorang aktifis senior HTI duduk menjabat sebagai sekretaris jenderal- telah memimpin sejumlah demontrasi massa mendukung RUU anti pornografi, menentang aliran sesat, mendukung larangan terhadap Ahmadiyah dan menentang kenaikan harga BBM.

Kerjasama dan persatuan umat Islam dalam MUI dan FUI dikhawatirkan ICG. John Virgoe mengatakan perkembangan ini mengakhawatirkan karena kelompok garis keras berkerja dalam dalam level akar rumput (grassroot) dan level pemerintahan. “Setelah merayakan kemenangan ini, mereka akan menuntut yang lain," ujar John Virgoe.

Kecam ICG

Dalam kesempatan terpisah, Ustadz Muhammad al Khaththath mengecam laporan ICG ini. Menurut sekjen FUI ini, laporan ICG merupakan bentuk campur tangan LSM asing terhadap Indonesia. Dia juga mengingatkan ICG selama ini telah menjadi alat untuk kepentingan negara-negara Kapitalis untuk mengokohkan penjajahan di negeri Islam termasuk Indonesia. Keberadan ICG di daerah-daerah konflik seperti Papua, Maluku, dan Aceh, menurut Al-Khaththath patut dipertanyakan kepentingannya.

Bukan pertama kali ini ICG melakukan permusuhan terbuka terhadap umat Islam dan menjadi alat kepentingan asing. Sebelumnya Sidney Jones dari ICG dikecam oleh umat Islam karena campur tangannya dalam proses pengadilan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Laporan bohong Sidney Jones yang dimuat Koran Tempo Tanggal 12 Desember 2002, mengatakan bahwa Ustad Abu Bakar Ba’asyir terlibat JI. Pengadilan kemudian membuktikan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tidak terlibat.

Dalam Laporan ICG tanggal 8 Agustus 2002, Sidney Jones membuat satu istilah yang merugikan lembaga pendidikan pesantren Ngruki, di mana dia membuat istilah Ngruki Network di mana seolah-olah mensinyalir banyak alumi Ngruki terlibat tindakan-tindakan terorisme.

Dalam kasus Ahmadiyah , ICG dan LSM-LSM komprador mempunyai kepentingan untuk mengokohkan liberalisasi di Indonesia. Kasus Ahmadiyah ini juga telah dijadikan alat asing untuk mengintervensi Indonesia dengan mengangkat isu pelanggaran HAM. Sebelumnya lewat isu HAM , Barat melakukan intervensi dalam konflik Timor Timur, Aceh, dan Maluku. Tentu saja yang paling sering disalahkan adalah kelompok Islam.

Hubungan ICG dengan kelompok pro Ahmadiyah di Indonesia juga bisa dilihat dari keberadaan Todung Mulya Lubis salah satu dedengkot AKK-BB yang pro Ahmadiyah. Todung sering menjual isu Indonesia dan Timor Timur saat menjadi Wakil Ketua Komisi Investigasi HAM untuk Timor Timur. Hingga kini ia adalah Ketua International Crisis Group (ICG), lembaga pengkaji isu internasional yang analisanya tentang Islam dan Umat Islam sering melenceng dan menyakitkan.

ICG lanjut ustadz al Khaththath tidak menginginkan umat Islam bersatu dengan mengangkat isu Islam garis keras. Penggunaan istilah Islam garis keras dan moderat adalah politik belah bambu untuk kepentingan penjajahan. Tujuannya menimbulkan saling curiga dan konflik horizontal dikalangan umat Islam. Padahal menurutnya Ahmadiyah dicap sesat menyesatkan bukan hanya oleh MUI atau FUI tapi tapi juga ormas Islam terbesar Indonesia seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. ” Laporan ini membuktikan Barat khawatir umat Islam bersatu untuk berjuang bersama-sama mengokohkan aqidah umat dan menegakkan syariah Islam”, tegasnya. (fw/li /hti/www.suara-islam.com].

Rate this post

Opera SMU

12 Jul 2008


Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, kata banyak orang sih. Minimal itu pula yang dikatakan guru PPL di sekolahku. Tahu guru PPL kan? Itu lho, sekelompok mahasiswa yang kuliah di keguruan dan mengajar beberapa bulan di sekolah tertentu untuk praktik. Aku sih bodo amat, aku merasa jati diriku udah mantap di jalur ini bareng teman segangku, club PUNK (baca pang). Memang sih kami belum ‘kaffah’ jadi punker beneran. Tapi paling tidak dari segi gaya kami harus menunjukkan jati diri sebagai penganut aliran punk, dan sekaligus counter bagi aliran underground.

Rambut diberi jelli sehingga tegak menyerupai landak, baju kedombrongan dan gaya cuek menjadi ciri khas aliran punk di sekolah ini. Kelompok punk dari sekolah lain lebih berani dengan mencat rambutnya dan menindik kuping atau hidungnya. Kami tidak bisa seperti itu karena ancamannya dikeluarkan dengan tidak hormat dari sekolah.

Cenderung pendiam dan memakai make-up gelap tipis dengan gaya berjalan sangar ditunjukkan kelompok underground. Bila di luar sekolah, mereka lebih suka memakai kaos hitam atau yang warna gelap. Aliran ini mulai ngetop sejak tahun ajaran baru lalu dimotori oleh anak kelas 1A.

Awal tahun ajaran ini cukup membosankan karena kelas tiga hanya diberi guru PPL bimbingan karier. Itu juga sudah ‘habis’ dikerjai teman-teman. Padahal masih banyak guru PPL bidang studi lain seperti Fisika, Sejarah, Bahasa Inggris, termasuk juga Olahraga. Ini nih yang asyik, guru PPL Olahraga ada yang berjenis cewek, cantik lagi. Dengan rambut cepak tapi masih terlihat feminin. Tubuh atletis dan tinggi sekitar 170 cm plus kulit putih, pantesnya nih calon guru jadi foto model aja. Asyiknya lagi, lapangan olahraga berada tepat di sebelah kelas kami, 3 IPS 1.

Ada juga guru sejarah yang ‘endut’ dan nyebelin banget tiap lewat depan kelas kami. Teman-teman selalu memanggilnya ‘BUL’. Tahu Bul kan? Itu lho yang temannya Bil di Saras pahlawan kebajikan yang endut banget dan selalu kalah (iihh….ketahuan maniak Saras nih).

Lalu ada lagi dua guru PPL yang pake kerudung putih tiap kali ngajar. Yang satu guru Fisika. Orangnya cukup manis juga dan selalu disuit-suitin setiap lewat. Dan yang satunya nggak jelas tuh guru apa. Nggak populer menurut kami karena nggak begitu cantik, apalagi dengan pakaian putih hitam terusan yang sedikit aneh menurutku.

Ketika guru fisika yang manis itu pakai rok hitam panjang dengan hem putih dimasukkan ke rok plus kerudung putih yang diikat di leher gaya anak muda sekarang, guru yang satu ini memakai terusan putih hitam seperti jubah dan kerudung yang cukup lebar menutup dada. Ah…pusing amat, toh nggak ada yang istimewa pada dirinya.

Hari Rabu siang, setelah pelajaran matematika, the most hated pelajaran di kelas IPS. Tinggal satu pelajaran Bahasa Inggris, lalu pulang. Wah, kalau pelaajran ini sih aku sedikit suka, meski nggak ngefans banget. Tujuan utama suka pelajaran ini sih pingin bisa nyanyi sefasih Limp Bizkit ketika melafadzkan lirik-lirik lagu. Nggak lucu khan kalau tongkrongan udah oke abis tapi waktu manggung nyanyi bareng bandku, kosakata Inggrisnya belepotan. 15 menit berlalu, Bu Rosa yang killer itu belum masuk kelas juga.

Deg. Tiba-tiba di depan kelas sudah ada sosok aneh dan misterius itu. Suitan-suitan nakal mulai terdengar dari mulut teman-teman geng-ku. Tapi mereka pun tetap tidak beranjak dari meja yang didudukinya, seakan-akan tidak peduli. Yang lainnya hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan obrolannya terutama yang cewek. Bahkan di antara mereka ada yang dengan cueknya sibuk makan makanan kecil.

Herannya, tidak ada sepatah kata pun keluar dari sosok itu selain tersungging senyum tipis mengamati kami semua dari depan kelas. Untuk beberapa saat situasi itu berlangsung ketika suasana berubah sedikit tenang meskipun teman-teman masih tetap di posisi semula. Dan suasana seperti itu dimanfaatkan oleh sosok itu untuk unjuk suara. Tapi belum sempat aku mendengar apa yang diucapkannya, teman-teman sudah ramai lagi dengan konyolnya seakan-akan tidak ada suara itu.

“Kok ada suara tapi nggak ada orangnya ya,” celetuk Sony dengan ekpresi seperti orang mencari barang yang jatuh di kolong-kolong bangku. Teman-teman yang lain tertawa keras-keras melihat kelakuan Sony. Kulirik sosok di depan itu, tetap dengan ekspresi wajah semula dan senyum tipisnya yang tidak berubah. Ketika tawa itu sedikit mereda,

“Cuma segini yang bisa kalian tunjukkan ke saya?” tanya sosok itu.

Spontan mereka kembali tertawa keras-keras lagi meski aku sendiri tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Sepertinya mereka, maksudku kami karena termasuk aku hanya ingin melihat sejauh mana mental sosok itu menghadapi kelas kami.

“Hanya segini? Apa tidak bisa lebih lagi?” tanyanya dingin. Sikap dan ekpresinya itu membuat kami pelan-pelan membenahi posisi duduk. Yudi yang semula membelakangi papan tulis sambil duduk di meja mulai memutar badannya untuk bisa mengamati sosok itu dengan lebih jelas. Hendro yang semula kakinya di atas meja mulai diturunkan, Bimo bahkan mulai turun dari meja dan duduk di bangkunya. Toro pun menghentikan dentingan gitarnya dan mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku pun cuma tersenyum menanggapinya. Kesemua geng-ku itu melihat ke arahku untuk mendapatkan persetujuanku apakah sosok ini memang pantas diberi perhatian atau tidak. Kuanggukkan kepalaku. Gengnya Lisa cs pun mulai menghentikan obrolan gosipnya. Tari dan Sulis cs menghentikan kunyahannya dan memasukkan makanan kecil itu ke tas masing-masing.

“Kenapa malah diam? Saya menantang kalian untuk kenakalan yang lebih dari ini.”

Gile bener, ketika dia sudah mulai mendapat perhatian kami, dia malah balik menantang. Beberapa dari kami mencemooh dan bertingkah sedikit over dengan tantangan itu. Tapi terlihat sekali kalau mereka melakukannya setengah hati dan tidak kompak karena sebagian besar memilih diam dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Sambil memegang buku di tangannya, sosok itu kembali melanjutkan,

“Biasanya siswa yang nakal itu punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Saya ingin tahu, apa yang bisa kalian banggakan terhadap saya. Kelas IPS itu lemah di pelajaran ilmu pastinya, tapi harus lebih di pelajaran sosial atau bahasanya.” Dia diam sejenak.

Lalu dia berbicara sedikit panjang dan lebar yang membuat kami tidak berkutik. Ya…sosok itu ternyata guru Bahasa Inggris dan sekarang nyerocos dalam Bahasa Inggris yang sangat fasih, bahkan tidak ubahnya seperti ‘native speaker’ yang cuma aku dengar di Lab bahasa dan film-film asing. Benar-benar ‘unbelievable‘!

“Kenapa diam? Jangan-jangan kalian tidak mengerti apa yang saya bicarakan.”

Kelas hening.

“Saya dulu dari kelas A3, IPS juga seperti kalian. Ketika semua memandang bahwa kelas IPS itu kelas buangan dan terdiri dari anak-anak kurang pintar yang bisanya cuma bolos dan nakal, saya berusaha membuktikan bahwa mereka salah. Paling tidak saya berusaha membuktikan bahwa ada anak IPS yang bisa berprestasi. Saya tidak menyombong, tapi beberapa kejuaraan pidato dan debat dalam Bahasa Inggris bisa saya menangkan. Lalu tembus perguruan tinggi negeri juga bisa saya lalui.”

Kelas semakin hening.

“Saya salut dengan remaja nakal, tapi harus ada yang bisa kalian banggakan.”

Clap. Calon ibu guru itu memukulkan buku yang dipegangnya ke meja di depannya.

“Tidak usah tegang, rileks saja. Saya hanya pengganti sementara kosong guru, karena tidak ada yang mau masuk kelas ini,” katanya sambil tersenyum.

Tidak heran, beberapa guru PPL yang lain telah gagal dengan sukses di kelas ini. Bahkan guru senior pun enggan berurusan dengan kelas kami.

“Ada tugas dari Bu Rosa, soal latihan bab 2 dikumpulkan minggu depan.”

Terdengar gemerisik dari seluruh penjuru kelas, kasak-kusuk. Akhirnya si Niko, cowok blasteran China-Jawa yang kayak Jerry Yan (tahu Jerry Yan kan? Itu lho yang main Tom & Jerry, eh..salah ding) mengacungkan jari kelingking, eh telunjuknya.

“Bu, eh….panggil Mbak aja ya?” katanya canggung sedikit nervous setelah dengar ketegasan sang calon ibu guru ini.

“Sudah punya pacar belum?”

Huuuuu……suara langsung ramai, riuh rendah mengiyakan pertanyaan si Niko.

“Belum dan tidak akan pernah” jawaban itu jelas dan tegas.

Itulah kali pertama kelasku mau terdiam untuk mendengarkan penjelasan tentang banyak hal dari guru PPL yang sudah tidak misterius lagi. Namanya Anisa, seindah dan seanggun akhlaknya. Dia banyak memperkenalkan hal-hal baru pada kami. Ketika aktivis rohis sekolah punya konsep pacaran islami, dia datang meluruskan pemahaman itu. Uniknya lagi pendekatan yang dia lakukan adalah mengajak kami berpikir apa dan bagaimana aktivitas pacaran yang cenderung mendekati zina itu dilakukan sebelum merujuk ke dalil dalam Islam. Terlalu muluk bila kami melulu diajak ngomong dalil, dan dia tahu itu.

Dia datang menyentuh banyak hal dari sisi kehidupan kami. Tentang konsep diri, tujuan hidup; terlebih mau ke mana setelah lulus SMU, apa tujuan bersekolah dan menuntut ilmu dan ini nih yang paling penting…”Setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan tentang apa yang dipimpinnya.” Weckss….dia menyentil posisiku sebagai pemimpin generasi punk meski secara tidak langsung.

ooOoo

Hari ini sedikit beda. Tomi menyambutku di depan pintu gerbang sekolah. Dia membisikkan sesuatu ke telingaku. Di belakangnya Ion, Jali, Agus mengangguk mengiyakan. Gerahamku mengeras. Ternyata kelompok underground mulai menyebarkan pengaruhnya.? Hmm…..menantang perang ini namanya.

Seharian kusiapkan strategi dengan teman-teman. Akhirnya strategi berhasil disusun. Lokasi sudah ditetapkan dan jadwal pun sudah matang. Hari Sabtu di terminal belakang sekolah adalah tempat yang ideal untuk menghadang dan menghajar anak kelas satu yang sok jagoan itu.

Hari ini waktu terasa lambat sekali. Hingga akhirnya tiba juga pukul 12 ketika bel pulang berbunyi. Hampir separo kelas yang kesemuanya adalah geng-ku tinggal di kelas ketika yang lain berebut pintu untuk keluar. Rencananya akan ada sekitar tigapuluhan anak dari generasi punk. Setelah beberapa saat, mereka menyebar ke kelas lain untuk mengumpulkan dukungan. Tinggal aku dan Tomi, sahabatku sekaligus pelaksana hampir semua rencana. Lalu Tomi keluar untuk melihat situasi dan meyakinkan bahwa semua guru sudah meninggalkan sekolah. Sambil menunggu Tomi kembali, kukeluarkan lem UHU dan mengeluarkan isinya ke telapak tanganku sebelum kuusapkan ke rambut dengan arah ke atas ala Mohawk. Yah, untungnya wajahku gak ancur-ancur amat, gak kalah sama David Beckham. Maksudnya kalah jelek gitu. Eh, enggak ding.

Tomi kembali sambil mengacungkan jempol tanda semuanya beres. Kukeluarkan hem putihku dari celana sambil berjalan menuju terminal. Hanya beberapa meter, terminal sudah di depan mata. Terlihat beberapa dari geng-ku sudah menempati posisi masing-masing. Dan seperti rencana..

“Itu dia, anak kelas satu yang berani berulah sedang jongkok bersama teman-temannya,” Aku berjalan menuju ke arahnya dan berdiri tepat di hadapannya. Dia tengadah tanpa berusaha merubah posisi jongkoknya.

“Kamu Awang, anak 1A ya?” tanyaku garang.

“Kenapa?” jawabnya singkat.

Jab! Satu pukulan telak kuarahkan ke wajahnya. Sebelum aku sempat memukul lagi ada suara tepuk tangan dari belakangku. Teman-teman pun berlarian ke arahku untuk mengeroyoknya seperti rencana semula. Tapi belum sempat itu terlaksana satu sosok sudah berdiri di depanku, memisahkan pandanganku dari Awang.

“Jadi begini siswa terpelajar menyelesaikan masalahnya” katanya tegas. Duh, dia lagi.

“Saya mengenali kalian semuanya. Walaupun saya bukan guru bidang studi kalian, tapi saya bisa mempengaruhi nilai kalian” katanya lagi ketika melihat teman-teman mulai tidak sabar.

“Begini saja. Biarkan keduanya menyelesaikan masalahnya secara laki-laki. Awang, kamu berani?”

“Iya Bu,” anak kelas satu itu di luar dugaanku mengiyakan tantangan ini.

“Kamu?” Sialan. Guru yang satu ini benar-benar tidak mau berhenti.

Kupandang teman-temanku dan ada rasa harap dari wajah mereka agar aku mengiyakan.

“Boleh,” kupandang tajam mata calon ibu guru yang sok itu. Tapi dengan entengnya dia tersenyum dan berjalan ke arah sekolah sambil berkata,” besok jam enam pagi di AULA sekolah. Jangan lupa atau ketidakdatangan kalian secara otomatis menobatkan siapa yang pengecut.” Glek. Kutelan ludah dengan susah payah.

Hari Minggu pagi itulah titik tolak dari seluruh kesadaranku, setelah diperdaya dengan sukses oleh Bu Anisa. Dia sudah siap di sana ketika aku datang. Dia tidak sendirian tapi ditemani guru olahraga yang semula kukagumi kecantikannya itu. Tapi kharisma Bu Anisa mengalahkan itu semua. Ketika aku ?sudah siap berhadap-hadapan dengan Awang, saat itulah dia memberi pertanyaan unik. Dia bertanya apakah kami ini ayam atau manusia. Ya, kami adalah manusia yang mempunyai akal dan berbeda dengan ayam. Tapi kami bertarung dan memakai otot untuk memperebutkan sesuatu yang tidak beda dari ayam. Saat itulah aku tersadar bahwa kami bukanlah ayam untuk disabung. Dan sesungguhnya antara geng punk ataupun underground tidak ada sesuatu yang pantas untuk dibanggakan. Karena memang kami bersaudara, seakidah…

Tap. Ada yang menepuk pundakku.

“Mas, rapat persiapan panitia bedah buku sudah siap nih.” Aku tersenyum.

“Teringat Bu Anisa ya?” Awang menggodaku. Yah, di kampus ini aku dipertemukan lagi oleh Allah dengan musuh besarku yang sekarang bahkan seperti adikku sendiri. Akidah Islam telah menyatukan kami dalam dakwah. Bahkan kami bertekad untuk terjun langsung di arena dakwah dengan anak-anak SMU sebagai target utama. Dan hari ini adalah rapat panitia bedah buku ‘Jangan Jadi Bebek’.[]

(Teruntuk ‘the unforgetable memory’ di SMUN Maospati)

By: Ria Fariana

Rate this post

Aduuh, kalo udah ngomongin malam minggu, seru abis deh jadinya. Kayak lagu yang dibawain Bang Jamal Mirdad “Malam minggu malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran, pacar baru, baru kenalan, kenal di jalan jendral sudirman.” Lain Bang Jamal, lain pula Mas Jikustik. Lagunya yang berlirik, “Malam ini malam minggu, kau menunggu di rumahmu, selamat malam dunia, ku siap tuk berpesta, tunggu aku disana, bertemu oh baby, selamat malam dunia, gairahku berpesta, kita lewati malam, berdua oh baby”.

Emang ga bisa dipungkiri deh, ada sebuah ikatan antara weekend day alias malam minggu dengan jiwa remaja. Jika ada remaja yang ga hang out pas weekend day, siap-siap deh dijadiin bahan gosip ama tetangga sebelah yang kurang kerjaan. Dari anak jadul alias jaman dulu, ga gaul, ga punya gebetan, jomblo, sampe dianggap dukun, soalnya terus aja bertapa di dalam rumah (emang besok keluar angka berapa mas…togel kali…). Hehehe, nah sobat, biasanya di malam minggu ada aja kegiatan seorang remaja, kalo ga ada kegiatan, ya di ada-adain, supaya keliatan sibuk banget. Dari aktifitas sekedar iseng, jalan-jalan, kumpul bareng teman satu kelas, sampe clubbing hingga pagi. Yang penting, di weekend day ada temen yang bisa diajak untuk jalan. Sepertinya ga seru banget deh kalo sabtu malam minggu hanya dihabisin dengan duduk termenung, apalagi di dalam kamar mandi. Hehehe...

Fenomena Sebuah Malam

Sobat, malam minggu adalah malam yang sangat dinanti. Apalagi untuk kita yang masih muda. Pengen ke mall-lah, pengen jalan-jalan lah, ngeceng lah, pokoknya udah bejibun kegiatan, ada di pikiran kita. Hanya untuk menghabiskan waktu berakhir pekan. Memang bener, perayaan weekend susah banget dilupain. Dikarenakan auranya yang begitu lekat di jiwa semua orang, khususon yang masih imut dan muda. Tapi kalo yang sudah bermutu atau bermuka tua, nanti dulu yee, ngantri. Nah sobat, feeling yang dekat inilah yang ngebikin suasana malam minggu sepertinya sangat istimewa. Sebut aja deh, kalo kita inget pacar, maka kita pasti ingat weekend day. Malahan tradisinya, jalan-jalan di seluruh kota, dibuat lebih ramai dari hari biasanya. Di seluruh ruas jalan dipadati oleh manusia yang ingin menikmati weekend day. Taman kota yang sepi pengunjung pada hari biasa, mendadak ramai ketika malam minggu tiba. Yang pasti jarang banget di malam minggu jalanan bakal sepi, kecuali pas BBM naik lagi....hehe sebel.

Ngapain aja seh, di malam minggu? Di id.answer.yahoo.com, buanyak banget remaja yang ngasih masukan, ngapain aja enaknya di malam minggu. Nickname freelho menjawab, “Ya yang asyik, pergi ke warnet, chatting atau cari kenalan baru dong, siapa tahu ada yang cocok.” Gubrak. Sedangkan nickname Bang aji ngasih komen, “Kalo memang merasa jomblo, baeknya cari pasangan / pacar..., asyik kok berlama-lama di internet.” Eit, udah deh, itu kayaknya udah cukup mewakili temen-temen kita yang lain. So pasti jawabannya ga jauh beda. Iya kan.

Sobat, kita mungkin ngerasa hepi ketika weekend tiba. Feeling fun kumpul ama teman se-gank, sekelas atau cuma sekedar nongkrong di pinggir jalan. Kita ngerasa kalo hal tersebut menyenangkan, meski kita tahu, detik demi detik umur kita banyak kebuang sia-sia. Ga sedikit lho, temen kita yang ngehabisin waktu, tenaga dan uang untuk sekedar menikmati malam minggu. Bahkan rela puasa seminggu penuh, karena ngempet pengen apel bareng doi. Ati-ati lho fren, rutinitas yang sia-sia di malam minggu bisa jadi, akan bikin kita nyesel di kemudian hari. Apalagi kalo kita udah tua nanti. Sudah banyak sobat, contoh orang-orang yang ketika tua menyesali masa mudanya. Mereka sebelumnya tidak menggunakan waktu dengan seefisien mungkin. Mereka cenderung ngelepasin waktu yang berharga begitu saja. Nah, berdasarkan survei (tahun 2006) terhadap warga Belgia yang berusia di atas 60 tahun, diperoleh informasi yang cukup mengejutkan. Hampir semua manula tersebut nyesel karena udah mengabaikan masa muda mereka. 72 % - menyesal karena kurang bekerja keras sewaktu masih muda, 67 % - menyesal karena salah memilih profesi atau karier, 63 % - menyesal karena kurang waktu mendidik anak mereka atau menggunakan pola didik yang salah, 58% - menyesal karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan, 11% - menyesal karena tidak memiliki cukup uang. Nah lho..

Ehem, ada pepatah Jawa yang bilang, “Blangkon (topi ala Jawa) iku bendholane nang ngguri, gak nang ngarep.” Artinya blangkon itu benjolannya di belakang, ga bakal ada di depan. Kalimat tadi itu punya makna, kalo penyesalan ga pernah datang di awal, tetapi selalu datang di akhir. Jadi kalo masa muda kita habisin dengan hura-hura doang, tanpa kera macan, alias kerja keras-main cantik, jangan kaget lho, kalo masa tua kita akan penuh dengan kekecewaan. Ya, ga puas ama masa tua, gara-gara sewaktu muda ga kita gunakan sebaik-baiknya, seperti survei yang udah kita ungkap di atas. Nyesel deh...

Sobat, Allah SWT udah ngewanti-wanti kita soal manajemen waktu. Kita diperintahkan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dan kalo kita membiarkan menit demi menit berlalu begitu saja, bersiaplah untuk menjadi orang-orang yang merugi. Di dunia, lebih-lebih di akhirat. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (TQS. Al ’Ashr: 1-3).

Seharusnya, kita sudah mulai berpikir saat ini juga, tentang siapa kita, untuk apa kita di dunia, dan akan kemana kita setelah meninggal nanti. Tentunya ga cukup dengan sekedar menjawab tiga pertanyaan tadi saja. Tapi juga butuh realisasi. Artinya ga cukup, kalo kita hidup di dunia hanya sekedar bersenang-senang aja. Bener sobat, it’s not enough. Kita juga kudu mempersiapkan bekal kita untuk menghadap Allah SWT kelak. Nah, kalo masa muda kita banyak difokusin ke perayaan malam mingguan, mau jadi apa neh di akhirat nanti?

Kebahagiaan Semu

Sobat, perlu kita ingat juga, kalo selama kita di dunia, Allah SWT udah ngasih kita rizki yang ga bisa dihitung. Mulai dari iman, kesehatan, harta, dll. Pokoknya buanyak deh. Nah, soal nikmat yang sedemikian besar, mau kita apakan se..? Apa mau kita sia-siakan begitu saja, atau malah kita manfaatkan dengan hura-hura semata? Semisal harta. Bisa aja berupa uang, perhiasan, HP, komputer dan semacamnya. Mau kita apakan itu semua? Terkadang kita ngerasa, kalo berbagai harta benda yang kita punya, itu murni hasil kerja keras kita. Eling fren, bukan pekerjaan yang bisa njadikan kita kaya, tapi Allah SWT. Buktinya, banyak lho orang yang ga kerja tapi bisa kaya. Contohnya dapat warisan atau undian berhadiah. Dan banyak juga lho, orang yang kerja tapi ga kaya-kaya, kayak kita neh…hehe.

Nah, harta yang ada di sekitar kita itu mau kita belanjakan untuk apa. Kalo harta itu kita gelontorin ke perayaan malam mingguan, semisal pacaran, apel, nonton bioskop, ngeceng dan lain-lain, dijamin, harta kita tadi ga bakal bernilai apa-apa. Alias dapat nilai nol. Apalagi kalo harta yang kita punya tadi dipake untuk perbuatan maksiat pada Allah. Udah ga dapat pahala, beli api neraka. Hy, syerem. Sobat, Allah SWT udah berfirman, “...Dan janganlah kamu menghabur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (TQS. Al-Israa’: 26). Sekiranya, ayat tadi udah cukup memberi wejangan untuk kita supaya bisa ngelola harta kita dengan sebaik-baiknya.

By the way fren, setelah kita ngebahas soal memanfaatkan waktu dan harta yang kita punya, supaya ga sia-sia. Kembali deh kita ke topik malam mingguan. Nah, sobat, banyak temen kita menganggap kesenangan yang didapat dengan jalan bareng pacar, mojok di taman, atau boncengan ama doi, itu adalah kebahagiaan. Sorry, kita kudu bilang itu semua salah besar. Kenapa? Nah, balik aja ke fondasi ajaran Islam. Soal kebahagiaan, Allah SWT sudah memberikan kejelasan di dalam Al Qur’an. Bukan untuk berfoya-foya, berpacaran ataupun malah free seks. Ih amit-amit. Nah tujuan penciptaan kitalah yang bisa ngantarkan diri ini, ke gerbang kebahagiaan yang hakiki. Sobat, Allah SWT sudah berfirman di dalam Al Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku.” (TQS. Adz-Dzariyaat: 56). Sehingga, sebenarnya ga ada alasan yang logis, untuk kita menghabiskan malam minggu dengan tradisi yang ga bener. Dan kita yakin kok, kalo sobat semua kembali bertanya ke hati nurani kita masing-masing, tentunya kita ngerti, kalo budaya malam mingguan yang selama ini ada di sekeliling kita, itu bertentangan dengan Islam. Pastinya bukan pahala yang kita dapat, tapi dosa yang gede banget. Berapa lama sih kesenangan yang kita dapat pas malam mingguan, paling banter 3 sampe 4 jam. Itupun belum ditambah ama macetnya jalan, hehe. Dan bandingin deh ama siksa yang kita dapat nanti di akhirat. Waduh, ga sebanding fren. Nelongso lho.

Berpikir Deh, Mulai Sekarang

Sobat, tahu ga, pada tiap-tiap peristiwa, seperti bergantinya siang dan malam serta penciptaan langit dan bumi, kita sebenarnya diajak oleh Allah untuk berpikir betapa agungnya Allah SWT. Dan betapa kecilnya kita (manusia). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali-‘Imron: 190). Nah, kita sebagai seorang manusia yang udah dikasih akal oleh Allah, apalagi sebagai seorang muslim, seharusnya ga akan mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir dulu. Ini benar atau salah. Ini baik atau buruk. Sobat, sudahkah kita mulai berpikir kesana?

Allah SWT berfiman, “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang Telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (TQS. Al Infithaar: 6-7). Lagi-lagi, sama-sama deh kita ingatkan diri kita, supaya ga berbuat semaunya. Dan mulai saat ini, mencoba memperbaiki pribadi.

Jadi sobat, ga ada waktu lagi untuk mengkhususkan malam minggu sebagai malam yang spesial. Apalagi untuk bermaksiat. Malam minggu sebenarnya ga ada bedanya ama malam-malam lainnya. Malam minggu juga sama aja dengan malam Jumat kliwon, hehe. Kita aja yang salah kaprah. Menjadikan hari itu seakan istimewa. Mungkin karena besoknya libur kali ya...Tapi tetep aja, itu semua bukanlah alasan bagi kita untuk durhaka pada Allah SWT. Coba deh, mulai sekarang, kita rubah tradisi ini. Kalo bisa kita hapus sekalian. Ganti dengan hal-hal lain yang lebih bermakna. Berpahala. Dan membuat diri kita makin cerdas. Coba deh, buat acara pengajian, atau menambah ilmu ke-Islam-an kita, pasti jauh lebih asyik. Sebagai penutup, Rasulullah SAW bersabda, “Sebagian dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Al Hadits). Iya kan. So, hapus tradisi malam mingguan. Sepakat!! (red)

by : Islamuda

Rate this post

Minggu lalu kamu-kamu yang punya ponsel mungkin sem-pet ketar-ketir. Pasalnya, beredar isu penyantetan lewat SMS. Sahibul isu bilang kalo si penerima membaca SMS itu maka layar ponselnya bakal meme-rah dan kemudian si pemba-canya bakal pingsan bahkan mati. Terang aja siapa yang kagak takut dapat kabar kayak gitu.

Banyak pengguna ponsel kemudian minta kejelasan soal SMS itu kepada pemerintah. Apalagi isu SMS santet itu sampai ngebawa-bawa nama sebuah operator seluler yang baru beroperasi. Wah, akhirnya pemerintah turun tangan dan para operator ponsel pun ngasih penjelasan kalo SMS itu aman dan nggak berbahaya buat manusia.

Alhamdulillah, dalam itungan hari, akhirnya isu SMS santet itu berakhir. Ternyata pelakunya seorang remaja yang iseng ngirim SMS berisi ancaman santet kepada teman-temannya. Entah gimana ceritanya SMS itu ke-forward ke banyak orang en jadinya bikin geger. Si remaja itu akhirnya diciduk kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Negeri iseng

Bukan sekali dua kali kejadian iseng bikin susah banyak orang. Kalau dulu para pelaku surat kaleng, yakni surat yang kagak jelas siapa pengirimnya, kini berkat kecanggihan teknologi keisengan itu pake telepon atawa SMS. Yang paling sering telepon en SMS gelap itu berisi ancaman bom lewat SMS. Mall, gedung perkantoran swasta, kantor pemerintah sampe sekolahan pernah diancam bom lewat SMS. Yang paling parah ketika ada orang ngirim ancaman bom itu ke rumah sakit. Kebayang kan, kayak apa paniknya pasien, dokter, en perawat ketika tempat mereka diancam bakal diledakkin. Untung aja para jenazah yang ada di kamar mayat nggak ikutan panik. Wacks!

Ngomongin soal iseng, keisengan orang di sekitar kita emang macem-macem. Ada yang suka iseng mencet bel rumah orang terus kabur, ngumpetin sendal temen waktu sholat di masjid, iseng mesen makanan pake layanan antar tapi dengan alamat palsu, sampai yang bikin laporan palsu ke nomor pemadam kebakaran. Tujuannya, apalagi kalo pengen ketawa-ketawa dari ngerjain orang.

Menghibur diri sih sah-sah aja. Tapi kalo iseng itu ternyata udah bikin susah orang lain, apalagi masyarakat, nah itu namanya keterlaluan. En kayaknya keisengan orang - khususnya remaja - makin hari makin ngawur. Bayangin aja, siapa yang nggak bakal panik mendengar tempat kerjanya mau dibom. Gimana juga tegangnya aparat keamanan mengamankan tempat kejadian. Iseng bin usil kayak gitu terang aja bikin susah banyak orang.

Keisengan yang ngawur dan bikin urat syaraf tegang juga jadi tontonan di layar kaca. Sebagian emang udah nggak nongol lagi, tapi muncul lagi yang lain. Sebut aja acara yang pernah tayang macam Paranoid, Emosi, MOP (Mbikin Orang Panik), dll. Acara-acara itu abis-abisan ngerjain orang sampai takut setengah mati atau marah banget. Sampai akhirnya beberapa tahun silam ada acara yang kena batunya, yakni seorang polisi dipecat dari jabatannya karena ikutan dalam acara itu. Nah, kalo udah begini nggak lucu lagi kan jadinya.

Tayangan-tayangan iseng dan usil itu intinya adalah bikin “penonton tertawa di atas derita orang lain”. Menurut pengamat pertelevisian dan sosial kemasyarakatan, tayangan macam itu bikin empati kita pada orang lain jadi tipis. Tahu kan apa itu empati? Yang jelas bukan singkatan empal ama ati. Empati itu artinya adalah turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Misalnya nih, kita ikutan sedih manakala ngeliat orang lain ketiban musibah. Juga merasa susah ketika ngeliat orang lain kesusahan.

Nah, gimana kita bisa berempati pada orang lain, kalo kita justru dibikin supaya ketawa ngeliat orang lain dikerjain. Yang ada, masyarakat malah ketularan untuk ngerjain orang lain demi kepuasan diri sendiri. Termasuk telepon dan SMS gelap yang menurut mereka sih untuk bercanda. Kalo kita udah nggak lagi punya empati, wah kita nggak bakal sungkan lagi menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan tertawaan kita. Bukan cuma itu, perbuatan yang lebih ?kejam’ lagi bisa juga dilakukan. Apa? Vandalisme! Ih, apaan tuh?

Vandalis

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, vandalisme artinya adalah perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb.).

So, kalo udah nggak punya perasaan sama orang lain, maka nggak cuma bernafsu ngerjain orang lain, tapi juga kepengen rusak barang orang. Nah, kelakuan macam ini juga yang kayaknya ampir jadi budaya di tanah air. Coba deh itung, berapa fasilitas umum yang rusak di sekitar kita; corat-coret di tembok, telepon umum yang jebol, pintu dan jendela kereta yang rusak, traffic light yang dirusak, dsb.

Tengok juga kelakuan brutal para suporter sepakbola kita. Meski ada juga yang tertib, tapi masih lebih banyak yang suka rusuh. Jangankan kalah, kalo menang aja suka pada ngamuk. Mau fasilitas di stadion, kendaraan pribadi apalagi kendaraan umum seperti bus dan kereta sering jadi sasaran pengrusakan penonton. Belum lagi kebiasaan tawuran antar suporter. Wuih, pokoknya ngeri banget deh.

Terus nih, pencurian sarana-sarana umum yang penting, cukup sering terjadi lho di tanah air. Pencurian kabel telepon, motong saluran air PAM, bahkan pernah kejadian menara listrik digergaji oleh orang nggak bertanggung jawab.

Yang lebih parah, nggak sedikit orang yang ngerjain itu semua, nggak mikirin keselamatan orang lain. Mungkin kamu masih inget kasus pencurian peralatan sinyal milik PT Kereta Api Indonesia, juga pencurian baut-bautnya, sampai motong rel kereta api. Demi duit yang kayaknya nggak seberapa, ada lho orang yang tega ngerusak milik umum en mengancam ratusan nyawa orang lain.

Emang sih, sebagian pengrusakan itu ada yang bermotif ekonomi. Di jaman krisis kayak gini, kalo perut udah laper, apapun digasak. Apalagi BBM udah bakal dinaikkan ama pemerintah, makin banyak aja orang dibikin sengsara ama penguasa. Sayangnya, pelakunya hanya mikirin perut mereka sendiri, tapi lupa ama nyawa orang lain. Betul kata Imam Ali ra., “Kemiskinan itu dekat pada kekufuran.”

Tapi, ada juga pengrusakan itu karena iseng belaka. Di Lampung, pernah kejadian rangkaian gerbong kereta api terputus karena sambungannya sengaja dilepas oleh sejumlah remaja iseng. Akhirnya rangkaian yang lepas itu ditabrak kereta yang berada di belakangnya.

Kalo kamu pengguna jasa kereta api - seperti Kereta Listrik Jakarta-Bogor -, suka ada aja orang di luar kereta yang iseng melem-pari kereta. Ada yang pake telor busuk, adakalanya batu juga ikutan ngelayang. Zwing! Pletak! Kebayang kan kalo tuh batu kena kepala penumpang. Nggak cuma benjol, tapi bisa bikin kepala bocor dan pastinya berdarah-darah.

Lagi sakit

Bro en Sis, bercanda dengan orang lain untuk menghibur diri boleh-boleh aja. Rasulullah saw. acapkali bercanda bersama para sahabat atau keluarganya. Beliau juga pernah lho berkata pada seorang nenek bahwa di surga tak ada orang lansia (lanjut usia). Ketika nenek itu bersedih, Rasulullah saw. lalu menjelaskan bahwa di surga semua orang dikembalikan pada usia muda.

Bercanda yang dilakukan Rasullah saw. tujuannya untuk menghibur diri juga menambah keakraban. Bukan untuk bikin malu orang lain apalagi bikin takut. Kalo sampai bikin orang lain takut, itu mah udah dzalim. Dan umat Islam kudu menjauhinya.Rasulullah saw. bersabda: “Seorang muslim adalah yang sesama muslim selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR Bukhari-Muslim)

Juga sabdanya, “Sesungguhnya orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang dijauhi manusia karena takut akan kejahatannya (kekasarannya)” (Muttafaq ?alayhi)

Perlu dicatet juga, bercanda tujuannya bukan untuk “bahagia di atas derita orang lain”. Malu deh kalo jadi orang Islam kalo sampai tega berbuat kayak begini. Sabda Nabi saw. “Engkau tidak boleh menampakkan gembira atas kesusahan yang menimpa saudaramu. Bisa jadi Allah akan memberi rahmat kepadanya dan memberikan ujian kepadamu.” (HR at-Tirmidzi)

Dalam bercanda juga pantang untuk berbohong. Bohong bin bokis itu kejahatan di mata Allah dan manusia. Sabda Nabi saw.:“Kalian harus menjauhi dusta, karena dusta akan bersama dengan kejahatan, dan keduanya ada di neraka.” (HR Ibnu Hibban)

Jangan lupa, berbohong itu juga termasuk tanda-tanda kemunafikan. Hii…mau disebut munafik? Nggak lha yaw. Berbohong itu ya termasuk di dalamnya lewat surat kaleng, SMS, telepon gelap, atau email.

Dalam Islam, pelaku iseng kayak begitu, pantas masuk pengadilan dan diganjar hukuman yang setimpal. Apalagi kalo sampai memba-hayakan orang lain. Pokoknya kudu ditumpas, pas, pas! Sampe ke akar-akarnya deh!

Apa yang sekarang ini marak; iseng dengan berbohong - apalagi ngebohongin banyak orang -, nakut-nakutin orang lain pake ancaman, atau ngerusak fasilitas umum maupun pribadi, adalah sebagian tanda kalo bangsa ini lagi ?sakit’. Penyebabnya apalagi kalo bukan sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan. Virus sekularisme ini bikin orang nggak lagi mikir bahwa Allah Maha Melihat dan bakal membalas semua perbuatan hamba-hambaNya. Mereka mikir, kalo Allah nggak bakal tahu perbuatan mereka karena tersembunyi. Mereka juga mikir kalo nggak bakal ada balasan dari Allah. Padahal mah Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Jika ada padamu sesuatu sebesar biji sawi berada di dalam batu, atau di langit, atau di bumi maka Allah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqman [31]: 16)

Sekularisme juga bikin banyak jadi kapitalis. Nah, salah satu ciri kapitalis adalah suka mengeksploitasi kesusahan orang lain, and then tertawa di atasnya. Derita orang dianggap komoditi yang layak jadi tontonan bahkan dijadikan duit alias diperdagangkan.

So, SMS ?santet’ itu bukanlah yang terakhir yang bakal mengguncang banyak orang. Selama umat muslim di Indonesia masih betah dengan sekularisme-kapitalisme, selama itu pula teror keisengan en keusilan bakal terus ada. Itu hanya bisa diberantas dengan ngeberantas dulu biangnya; sekularisme en kapitalisme.

Buat kita-kita, nggak pantes deh bikin orang lain susah lalu kita hepi di atasnya. Itu ciri kaum kapitalis, Bro! bukan ciri seorang muslim. Percaya deh! [iwan januar]

Rate this post

Ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan taat.? Namun ia mengenal Islam melalui seorang juru masa restoranHidayatullah.com–Lahir di Austria, namun dibesarkan di Jerman. Keluarganya adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Namun beranjak dewasa mulai ragu dengan dogma-dogma dalam ajaran agamanya yang dianggap tidak rasional. Pencarian kebenaran pun dimulai. Pada usia 16 tahun kembali ke Austria dan meneruskan studi lanjutnya di Salzburg University hingga meraih gelar doktor ilmu Biologi. Selanjutnya diterima sebagai dosen dan peneliti di almamaternya. Hingga, dalam sebuah perjalanan ke Mesir, ia menemukan hidayah melalui perantaraan seorang juru masak hotel yang kemudian jadi suaminya. Itulah dia Prof. Dr. Aminah Islam (54), Guru Besar Ilmu Biologi pada Universitas Salzburg yang memeluk Islam Ramadhan 2004 silam. Wanita yang malu difoto karena belum berjilbab itu menceritakan kisah perjalanan spiritualnya di situs Islam terkemuka www.readingislam.com.?

**

Image“Saya lahir di Linz, Austria tahun 1953. Namun menghabiskan masa kecil di Muenchen, Jerman hingga akhirnya pindah ke Salzburg, Austria? kala berusia 16 tahun,” ujar Prof. Aminah di awal tulisannya. Dikatakannya, ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan yang taat. Keluarganya juga mengajarkan pendidikan etika dan moral.

Semasa remaja Aminah tidak mengikuti aktifitas di gereja Protestan. Alhasil, orangtuanya lalu memintanya untuk aktif di gereja Evangelis dan segera menjadi anggota aktif serta menjadi ketua salah satu kelompok pelajar. Ia belajar Bibel dan yakin dengan dogma bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Demikian juga ia yakini Yesus mati disalib guna menebus dosa-dosa pengikutnya.

Pada mulanya ia jalani semua itu tanpa ada penolakan. Namun beberapa tahun kemudian, masih di komunitas yang sama, hati kecilnya mulai menolak hingga keluar dari ?perkumpulan itu karena bertentangan dengan rasionalnya.? Secara berulangkali ia mengatakan bahwa Tuhan masih misterius baginya. Kala itu ia mulai ragu Yesus sebagai Tuhan. Sejak itula ia mulai mencari kebenaran hidup.

Aminah menyelesaikan sekolah menengahnya di kota Salzburg. Selanjutnya, di kota kelahiran komponis kenamaan Mozart itu ia meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Salzburg dan mengambil jurusan Biologi. Belajar sembari bekerja sampingan (part time) di universitas tempatnya belajar pun dilakoni.

Setelah menyelesaikan program doktor, Aminah kemudian menikah dan prosesinya berlangsung di gereja. Dari permenikahan itu ia memiliki dua orang anak. Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama. Karena alasan tak ada keharmonisan kemudian cerai. Sejak saat itu ia sudah mulai meninggalkan gereja.

Diterima menjadi dosen

Aminah mencoba melamar kerja karena ia sendirian mengasuh anak-anak. “Alhamdulillah saya dapat pekerjaan bagus di Universitas Salzburg sebagai staf pengajar dan peneliti di bidang Biologi,” ujarnya mengenang.

Kemudian ia memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Ketika itu ia juga masih dalam proses mencari kebenaran. Namun pernikahan kedua itu juga bak bencana dan akhirnya cerai lagi. Mirip dengan kasus pertama.

“Waktu itu suami yang kedua itu mengambil keuntungan dari pekerjaan saya sebagai dosen. Sementara ia hanya santai saja tanpa ada upaya untuk mencari dukungan financial lainnya. Sakitnya lagi, ia bahkan tidak peduli terhadap anak-anak,” tukasnya lagi. Syukurnya saat cerai yang kedua itu Aminah sudah meraih posisi sebagai profesor dan memegang tanggungjawab penuh pekerjaan di kampus.

“Namun saya? merasa belum mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Pekerjaan pun dobel dan bahkan melebihi kapasitas. Ya mengajar, mengasuh anak-anak, mengurus rumah. Hingga saya kelelahan fisik dan psikis sampai akhirnya mengalami depresi berkepanjangan. Namun saya masih bisa bertahan, itu karena anak-anak,” akunya.

Selepas perceraian kedua, Aminah mengaku hidup bersama tanpa nikah dengan seorang pria yang usianya lebih muda 9 tahun dengannya. Hidup bersama tanpa nikah adalah hal lazim di dunia Barat.

“Hanya sebentar, kemudian saya ditinggalkan lagi. Sejak itu saya mulai lagi mengatur hidup sebagai wanita single, tanpa berharap akan ada pria lagi yang datang.? Saya pikir untuk apa lagi. Saya sudah punya kerja, anak-anak sudah besar, punya apartemen nyaman, mobil, bisa menyalurkan hobi seperti mendaki gunung, main ski. Sudah bisa berdiri sendiri di atas kedua kaki. Saya sudah tidak punya kerinduan asmara lagi,” imbuhnya lagi. Namun ia mengaku masih belum puas untuk terus mencari kebenaran dalam hidup.

Berkenalan dengan Islam

“Pengetahuan tentang Islam sangatlah minim. Masa itu yang? saya tahu -melalui media- Islam agama yang tidak simpatik,” ujarnya. Kala itu ia mengaku tidak pernah mendapatkan kontak dengan Islam secara langsung dan juga tidak ingin bersentuhan dengan orang-orang dari agama yang waktu itu disebutnya sebagai agama suka perang.

Sampai akhirnya situasi berubah secara tak terduga. Ceritanya, September 2002 ia bersama koleganya berencana menghabiskan liburan selama sepekan.

“Kami booking penerbangan pas detik-detik akhir. Syukurlah akhirnya dapat tawaran murah ke Mesir. Saya memang lagi ingin rilek, mengatur irama hidup kembali selepas lelah bekerja, dan berharap menemukan kebenaran yang kucari. Jujur saja, tidak ada lagi keinginan untuk menemukan pria idaman sebagai suami,” ujarnya seraya melanjutkan kisahnya.

“Kala itu, persis di sore pertama kami di hotel saya pergi ke restoran untuk makan malam. Eh? entah bagaimana saya bertemu pandang dengan seorang pria yang terakhir saya ketahui bernama Walid. Ia juru masak di hotel itu. Kala mata kami bertemu, hati saya bergetar aneh. Ah saya jatuh cinta lagi!. Walid menceritakan, selepas menjadi suami saya, bahwa ia juga mengalami hal yang sama pada pandangan pertama itu,” kisah Aminah lagi.

Setelah kejadian itu hampir dua hari mereka tidak bertemu sampai kemudian Walid menulis sepucuk surat. Isi surat pertamanya itu Walid langsung mengajak Aminah untuk nikah.

“Liburan tinggal beberapa hari lagi dan saya merasakan hati seperti berat meninggalkan tempat itu. Akhirnya saya kembali ke Austria tanpa ada nomor kontak Walid yang dapat dihubungi. Namun dengan segera aku berpikir realistis bahwa ada pembatas yang sangat dalam diantara kami (umur, budaya, agama, pendidikan dan bahasa),” kilahnya. Namun hati tidak bisa ditipu. Akhirnya ia kembali ke Mesir dua bulan kemudian untuk mendapatkan cintanya lagi. Hanya saja masalah terbesar kala itu adalah sulitnya komunikasi karena faktor bahasa.

“Nampaknya Allah memang mengatur semua ini. Allah seakan mulai memperlihatkan jalan dalam hidupku. Beberapa hari selepas kembali ke Austria dari Mesir, seorang wanita datang dari Mesir dan bekerja sebagai peneliti tamu di institut kami selama satu tahun. Dua minggu kemudian saya pun mulai ikut kursus bahasa Arab di kampus yang ditawarkan oleh seorang profesor dari Mesir. Mereka juga mengajarkan banyak hal tentang Islam dan budayanya. Bahasa Arab adalah sebagai upaya untuk mempermudah komunikasi dengan Walid,” tuturnya mengenang. Karena tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam, ia membeli banyak buku dan sebuah terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jerman.

Menikah diam-diam

Pada kunjungan kedua kalinya ke Mesir ?Aminah berkunjung ke keluarga Walid. Ia mengaku terkesan dengan Walid yang sangat ulet dan berasal dari sebuah keluarga besar yang bermata pencaharian sebagai petani. Keluarganya memegang teguh ajaran Islam.

“Saya diajak bertemu keluarga besarnya itu. Sore pertama di sana, akhirnya kami sepakat untuk menikah secara Islam. Hanya melalui bantuan penghulu setempat di desa itu. Kesannya kami menikah secara diam-diam. Semata-mata untuk menghindari kemaksiatan. Walid sangat komit dengan ajaran agamanya, bahwa laki-laki dan perempuan yang belum ada ikatan pernikahan haram melakukan hubungan yang dilarang agama.”

Setelah perjalanan kali kedua itu, Aminah sempat ke Mesir beberapa kali hingga akhirnya kami bisa menikah secara resmi di Kairo.

“Saya sungguh sangat bahagia waktu itu. kami pun segera mengurus visa Walid untuk memperoleh ijin berkunjung ke luar negeri. Akhirnya Walid bisa ke Austria persis setahun selepas pertemuan pertama kami di hotel,” kenangnya.

Aminah secara perlahan mulai belajar banyak hal tentang Islam, baik melalui buku-buku maupun dengan bantuan rekan-rekan muslim di Austria. Ada hal menarik, yakni tanpa disangka ia diminta oleh Cairo University untuk menjadi penguji tesis salah seorang mahasiswa di sana. Nah dari beberapa kali kunjungan akademik itulah ia akrab dengan salah satu Muslimah Mesir yang kemudian jadi tempatnya bertanya hal Islam. Ia mengaku kagum dengan kebanyakan muslim termasuk kaum mudanya yang terbuka dan sangat respek jika bicara tentang Allah dan Islam.

Segera selepas kedatangan suaminya ke Austria, merekapun mengadakan kontak dengan mesjid yang ada di kota Salzburg. Ia menerima hadiah beberapa buku. Salah satu yang sangat berkesan adalah buku “Bible, Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Alam” karangan Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis. Buku itu sangat sesuai dengan aktivitas yang ia tekuni saat ini. ?Ia baru tahu, semua pernyataan ilmiah yang ada dalam Quran ternyata sangat sesuai dengan hasil-hasil penelitian terkini. Matanya makin terbuka.

“Al-Quran ternyata tidak hanya menjelaskan tentang Tuhan dan dunia, tapi juga semua pernyataan di dalamnya, semisal ilmu-ilmu alam, tidak kontradiksi dengan kenyataan,” ujarnya. Bagi Prof Aminah yang seorang saintis ilmu alam, tentu saja penjelasan

Al-Quran makin membuatnya mantap untuk mempelajari Islam. ?”Semakin jelas, Islam bukanlah agama baru, tapi justru agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, misal Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, yang oleh agama lain tidak diakui, adalah pembawa risalah, pembawa kebenaran yang berasal dari Allah. Tak ada yang disangsikan, Al-Quran adalah perkataan Allah dan Muhammad utusannya! Jika ini merupakan kebenaran dan saya yakin atas itu, maka saya harus menerima dan menjalankan semua isi Al-Quran,” tegasnya.

Mengucap dua kalimah syahadah

Persis memasuki Ramadhan 2004, Walid menanyakan dengan bijak akankah Aminah melakukan langkah terakhir dalam pencariannya (memeluk Islam).

“Tak ada keraguan sama sekali. Saya bahkan menginginkan agar prosesi itu dilaksanakan di rumah kami dengan mengundang beberapa saudara? terdekat, Muslim dan Muslimah. Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2004 saya mengukir sejarah hidup, bersyahadah disaksikan suami, anak-anak dan beberapa rekan-rekan kami. Sungguh, saya sangat bahagia. Bahagia sekali bisa menjadi bagian dari umat Islam,” kenangnya.

Mulai saat itu Prof. Fatimah berupaya untuk meningkatkan keyakinan dan ketaqwaannya kepada Allah, demikian juga pengetahuannya tentang Islam. Dan, berusaha sebaik mungkin melaksanakan ajarannya. Shalat misalnya, ternyata jauh-jauh hari ia telah belajar bagaimana menunaikan salah satu tiang agama Islam itu. Juga ia mulai berpuasa di bulan Ramadhan.

Di akhir penuturannya, ia mengakui masih ada dua masalah yang tersisa. Pertama, ia masih ragu memberitahukan hal keislamannya itu kepada kedua orangtuanya.

“Meskipun mereka telah tahu pendapat saya tentang Islam, tapi saya belum bisa beritahu bahwa saya sudah masuk Islam. Mereka sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan. Takutnya, jika mereka terkejut bisa berbahaya bagi kesehatan. Tapi ini hanya masalah waktu saja,” ungkapnya.

“Satu lagi masalah yang masih mengganjal, saya belum bisa mengenakan jilbab di tempat kerja. Memang Austria tidak ada masalah dengan Islam yang telah jadi agama negara. Namun masalahnya, masyarakat atau lingkungan di universitas saya bekerja masih tabu dengan itu.”

Profesor Fatimah mengaku, kendati begitu ia tetap berjuang untuk jilbabnya itu. Buktinya, dalam setiap kesempatan ia gunakan untuk bicara dan menjelaskan tentang Islam.

“Alhamdulillah, Allah akhirnya menolong saya menemukan jalan kebenaran yang telah lama saya cari. Karena itu saya berusaha untuk menjadi muslimah yang baik. Di lingkungan kerja, saya mencoba mempraktekkan ajaran Islam yang saya ketahui dengan memberikan contoh-contoh yang bagus,” tukasnya mengakhiri penuturannya kepada Readingislam. Selamat, semoga hidayah Allah kekal bersamamu saudaraku Fatimah! [zulkarnain jalil (Aceh)/www.hidayatullah.com]

Rate this post

Suara-islam.com--Tanggal 3-14 Desember 2007 berlangsung konvensi /Pertemuan antar pihak (Conference of Parties/ Meeting of Parties) tingkat tinggi di Bali yang diadakan oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Pertemuan ini diharapkan dapat mengevaluasi Protokol Kyoto yang dibuat tahun 1997, yang ditandatangani untuk mengurangi kadar CO2 guna mencegah pemanasan global. Fenomena ini tidak bisa dilihat sesaat atau semusim saja, tetapi harus dalam jangka yang lama, berpuluh tahun atau bahkan berabad-abad. 

Cuaca adalah fenomena yang dapat bervariasi dari hari ke hari. Sedang tren jangka panjang disebut iklim. Ketika tren ini berubah maka kita bicara tentang perubahan iklim. Pada skala global, ini disebut Global Climate Change.  Sejak era industri, orang mencatat perubahan iklim ini. Efek ini diduga akibat meningkatnya karbon dioksida (CO2) di atmosfir sebagai dampak pembakaran hidrokarbon baik bahan bakar fossil, hutan maupun sampah, sehingga sinar inframerah dari matahari lebih banyak terperangkap di atmosfir. Karena efek semacam ini mirip yang dirasakan di rumah-rumah kaca, maka disebut Efek Rumah Kaca (Green-house effect) dan CO2 disebut juga ”gas rumah kaca” (Greenhouse-Gas/GHG).  Dan karena efeknya memanaskan secara global, maka disebut ”global warming”.

Karena memerlukan riset jangka panjang seperti ini, maka sebagian orang masih berbeda pendapat tentang dimensi efek global warming. Ada yang meng-anggap efek ini akan dinetralisir oleh peningkatan reaktivitas lautan secara alami.   

Namun mau tak mau kita tetap harus mempersiapkan diri. Masalahnya, salah iklim tidak dapat diatasi dalam waktu singkat. Kalau kemarau panjang terjadi, sedang lahan pertanian terlanjur dita-nami dengan padi yang sangat butuh air, maka akan terjadi krisis pangan.

Di sisi lain, sistem pemantauan cuaca juga harus terus dibangun. Jaringannya perlu diperpadat, komputernya dimo-dernisasi dan SDM-nya ditingkat-kan profesionalitas dan kesejahtera-annya. Sistem ini juga harus diintegrasikan ke jaringan pemantau cuaca global, ter-masuk yang berbasis satelit.  Akurasinya harus ditingkatkan, agar ramalan iklim ini memang prediksi yang ilmiah, bukan sekedar isu murahan yang dimanfaatkan segelintir pengusaha untuk mendapatkan proyek. 

Sejak masa pencatatan temperatur secara ilmiah dan teratur selama 100 tahun terakhir, tercatat suhu bumi naik 0,75° C. Yang mencolok, setelah 1950, tren kenaikan suhu terlihat cukup konsisten dengan sekitar 0,25° C per dekade untuk daratan dan 0,13° C per dekade untuk lautan.

 
Dampak Pemanasan Global

Pemanasan global diduga keras akan berpengaruh dalam bentuk sebagai berikut:

(1) Es di kutub dan gunung-gunung tinggi mencair.  Menurut perhi-tungan, hal ini menaikkan paras laut setinggi hingga 5 - 7 meter!  Tentu saja kenaikan paras laut rata-rata ini harus diukur dari stasiun pasang surut yang stabil, tidak terjadi gempa atau penu-runan muka tanah (land-sub-sidence).

(2) Kalau air laut naik, maka dataran rendah akan tergenang.  Daerah pantai atau dataran rendah yang produktif di bawah level tertentu akan hilang. Pulau-pulau kecil yang rendah juga akan dihapus dari peta.

(3) Bila daratan yang hilang ini merupakan acuan dari ”pagar batas” suatu negeri, maka batas negeri itu bisa kembali menjadi persengketaan mengingat batas alamnya hilang.

(4) Perubahan sirkulasi plankton dan otomatis perubahan sebaran ikan yang pada akhirnya pada perse-diaan sumber pangan dari laut.  Nasib jutaan nelayan atau petani tambak ada di ujung tanduk.

(5) Perubahan vegetasi. Daerah yang kini beriklim sedang akan menjadi lebih hangat sehingga dapat menanam tanaman tropis. Se-mentara itu daerah yang sekarang sudah hangat seperti di Indonesia, dapat berubah menjadi gurun!

(6) Perubahan pola penyakit, akibat beberapa virus atau bakteria yang dulu hanya ada di daerah tropis (seperti malaria, DBD dan seje-nisnya) akan melanda daerah beriklim sedang.

 

Sumber Gas Rumah Kaca

Hingga saat ini dua negara besar yaitu China dan Amerika Serikat menolak me-ratifikasi Protokol Kyoto, walau dengan alasan yang berbeda. China berposisi bahwa aktivitas ekonominya masih jauh di bawah negara-negara industri maju.  Pengurangan CO2 berarti menutup kesempatan rakyat China untuk menik-mati standar hidup yang lebih baik.  Sedang AS memang kurang berminat menurunkan tingkat penggunaan energi fossilnya, terutama di bidang trans-portasi.  Namun isu yang kini beredar jus-tru sumber gas rumah kaca ini dunia Is-lam akibat pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali karena penolakan terha-dap program Keluarga Berencana (KB).   

Faktanya, selama ini AS adalah “juara” penghasil CO2, yaitu 39% dunia.  Negara-negara G-8 (AS, Jepang, Jerman, Canada, Inggris, Perancis, Italia dan Rusia) total membuang CO2 68% dunia. Artinya, jumlah CO2 dari seluruh negara lainnya, termasuk Indonesia dan China kurang dari 32%.

Selama ini sektor yang paling banyak menghasilkan CO2 adalah energi (baik untuk industri maupun transportasi). AS menghembuskan hampir 6500 Mega Ton CO2-equivalen, di mana 95% dari sektor energi. Sebagai pembanding, Indonesia hanya menghembuskan kurang dari 400 Mega Ton CO2-equivalen, meski jumlah penduduk Indonesia sudah mendekati penduduk AS. Namun karena di Indo-nesia sering terjadi kebakaran hutan, baik disengaja atau tidak, Indonesia “me-nyumbang” CO2 sebanyak 3000 Mega Ton CO2-equivalen.

Negara-negara maju anggota UNF CCC pada awalnya punya komitmen untuk membantu secara finansial negara-negara berkembang dalam mengan-tisipasi dampak perubahan iklim ini.  Untuk itu negara-negara berkembang diwajibkan untuk melakukan sejumlah hal seperti menjaga hutan-hutannya serta menyerahkan data Greenhouse gas-inventory.

Namun setelah sepuluh tahun Kyoto Protokol, negara-negara berkembang semakin sadar bahwa ada faktor-faktor institusional yang sangat sulit diatasi, yaitu: (1) negara-negara industri terdepan di dunia (dikenal dengan G-8) sudah berada pada “zona nyaman”, sehingga malas untuk berubah; (2) di dunia saat ini tidak ada skema ekonomi alternatif yang berskala global; dan (3) PBB ternyata tidak punya kapasitas politik yang cukup karena selalu dipengaruhi AS. 

Maka semakin jelas bahwa untuk menyelamatkan planet ini dari kehan-curan ekologis, perlu paradigma dan sistem politik dan ekonomi global yang baru. Sistem politik dan ekonomi kapi-talistis-sekuler terbukti gagal. Perlu ada sistem alternatif yang bersandar kepada Sang Pencipta Yang Maha Tahu.  Allah berfirman:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30: 41)

Sistem alternatif bagi dunia yang sekaligus adalah sistem satu-satunya bagi kaum muslimin itu adalah sistem peme-rintahan Islam global (khilafah). Syariat Islam yang diterapkan secara menyeluruh oleh khilafah akan mengatasi masalah CO2 ini sejak dari akarnya. CO2 akan dikurangi dari sisi demand maupun supply. 

Dari sisi demand: CO2 dihasilkan dari penggunaan energi konvensional (mi-nyak, gas, batubara). Semakin materialis gaya hidup seseorang, makin banyak energi dihabiskannya dan semakin banyak pula CO2 akan dibuangnya. Dengan digantinya paradigma kebaha-giaan dengan paradigma Islam, maka sekaligus dua masalah teratasi: kebu-tuhan energi dan Co2. Bentuk mengu-rangi demand ini bisa berupa penataan ruang baik makro maupun mikro yang lebih baik, sehingga mengurangi kebutuhan energi untuk transportasi, penerangan atau penyejuk udara. Secara teknologi, penggunaan teknologi infor-masi dan komunikasi (ICT) juga dapat menekan kebutuhan trans-portasi cukup signifikan, karena akan banyak hal dapat dilakukan secara jarak jauh (misalnya teleconference, tele-working, dsb).

Sedang dari sisi supply, penggunaan energi terbarukan seperti energi surya dalam berbagai bentuknya (solar-cell, solar-farm, solar-tank), energi angin (wind-farm), energi air (dari mikrohidro sampai PLTA), energi ombak, energi suhu laut (Ocean-Thermal-Energi-Conver-sion, OTEC), pasang surut, panas bumi (geothermal) hingga energi nuklir dapat membantu menurunkan peng-gunaan energi konvensional, dan pada akhirnya mengantisipasi pemanasan global. 

Di sisi lain, gerakan pelestarian hutan dan penanaman pohon harus digalakkan, baik secara individual, korporasi maupun negara. Dalam 12 tahun (1991-2003), Indonesia sudah kehilangan 68 juta hektar hutan, atau sekitar 10 hektar per menit!  Bayangkan! Di level bawah, para aktivis dakwah perlu mengingatkan umat pada hadits Nabi yang berbunyi kira-kira, “Andaikan kiamat terjadi sore hari, di pagi hari seorang muslim tetap akan menanam sebuah pohon”. [Fahmi Amhar/www.suara-islam.com]

Rate this post